PGP-Angk2-Kabupaten Malang-Retno Trisniningsih-1.4-Aksi Nyata
TUGAS 1.4.a.10
REFLEKSI AKSI NYATA
" Menumbuhkan dan mengembangkan
Budaya 3M dalam masa PTM Terbatas melalui kesepakatan kelas di kelas 5 SD
Negeri 1 Sumbermanjing Wetan "
CGP
ANGKATAN-2 : RETNO TRISNININGSIH
PENGAJAR PRAKTIK : ALIN WAHYU WULANDARI
FASILITATOR
: Dra. NINIS EMILATI KHOTIMAH, M.Pd.
A. LATAR BELAKANG
Budaya positif ialah nilai-nilai,
keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada
murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan
bertanggung jawab. Selama ini SD Negeri 1 Sumbermanjing Wetan juga sudah
menerapkan berbagai budaya positif antara lain: budaya 3S (Senyum, Salam,
Sapa), Budaya Jumat Religi, dan Budaya Sabtu Bersih. Bahkan akhir-akhir ini
dalam pelaksanaan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) Terbatas muncul budaya positif
yang baru yaitu Budaya 3M (memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun dan
air mengalir, menjaga jarak) dan Budaya Antri.
Namun semua budaya positif tersebut masih belum
dilaksanakan dengan penuh kesadaran diri (motivasi intrinsik) terlebih Budaya
3M. Padahal di masa pandemi ini pelaksanaan budaya 3M sangat penting demi
keamanan dan kenyamanan seluruh warga sekolah terutama murid dalam proses
pembelajaran. Budaya 3M hanya dilaksanakan atas dasar kepatuhan terhadap tata
tertib sekolah sehingga budaya tersebut hanya bersifat sementara dan kurang
berdampak terhadap pengembangan karakter murid. Selain itu, penyusunan dan
penerapan program budaya tersebut masih belum berpihak pada murid. Dalam artian
murid tidak diberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya dalam pembuatan
kesepakatan terkait pelaksanaan budaya positif tersebut dalam kata lain masih
belum melaksanakan “Merdeka Belajar”. Sehingga murid merasa terbebani dalam
melakukan budaya positif tersebut.
Modul 1.1
sampai dengan 1.4 ini merubah pola pikir kami para guru untuk melakukan suatu
perubahan ke arah positif termasuk dalam pelaksanaan penyusunan budaya positif
melalui kesepakatan yang melibatkan kolaborasi antara guru dan murid sebagai
wujud keberpihakan terhadap murid. Saya semakin antusias dan merasa termotivasi
untuk menjadi bagian dari adanya suatu perubahan ke arah positif. Karena saat
ini masih dalam masa liburan maka aksi nyata pembuatan kesepakatan kelas
tentang budaya positif 3M ini akan dilaksanakan secara daring. Sedangkan
pelaksanaan Budaya 3M akan dilaksanakan secara daring dan luring (ketika
pembelajaran sudah dilaksanakan secara tatap muka). Dengan adanya kesepakatan
yang disusun bersama dengan murid diharapkan dapat menumbuhkan dan
mengembangkan motivasi siswa dalam menerapkan budaya positif 3M dan budaya
lainnya sehingga terwujudlah lingkungan belajar yang nyaman, aman, sehat, dan
merdeka belajar. Sesuai dengan visi yang telah diimpikan yaitu “Terwujudnya merdeka belajar dan murid yang
berprofil Pelajar Pancasila”
B.
DESKRIPSI
AKSI NYATA
Pada kesempatan ini saya melaksanakan aksi nyata
sesuai dengan modul 1.4 Budaya Positif yaitu "Menumbuhkan dan
mengembangkan Budaya 3M". Budaya 3M ini meliputi memakai masker
disetiap kegiatan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah
melakukan aktifitas dan saat keluar masuk kelas atau ruangan, serta menjaga
jarak di setiap kegiatan (antri mencuci tangan, mengumpulkan tugas, masuk dan
pulang sekolah dll). Dalam masa pandemi ini, pembelajaran di sekolah
dilaksanakan secara PTM Terbatas. Protokol kesehatan harus tetap dipatuhi dan
dilaksanakan agar seluruh warga sekolah dapat melaksanakan pembelajaran dengan
lancar dan mencegah menyebarnya virus covid-19. Namun, pada kenyataannya
sebagian besar warga sekolah masih belum menyadari dalam mematuhi protokol
kesehatan tersebut. Memakai masker hanya ketika bertemu guru, dan waktu masuk
gerbang sekolah selebihnya menunggu teguran dari guru begitu pula dengan
mencuci tangan dan menjaga jarak. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut
saya melaksanakan aksi nyata untuk menumbuhkan dan mengembangkan budaya positif
yaitu Budaya 3M yang berpihak pada murid demi kelancaran proses belajar
mengajar dan tercapainya visi sekolah yaitu "Terwujudnya merdeka
belajar dan murid yang berprofil pelajar Pancasila".
Pembiasaan 3M ini akan dilaksanakan secara
kontinuitas, konvergen dan konsentris yang berpihak kepada murid. Pertama,
Diawali dengan melakukan sosialisasi dan komunikasi positif kepada kepala
sekolah dan juga rekan guru terkait rencana yang akan dilakukan yaitu
pembiasaan budaya 3M. Kedua, membangun kesepakatan antara
guru dengan murid secara daring melalui aplikasi Google Meet dalam mewujudkan
sekolah yang sehat dan tertib serta menyusun konsekuensinya jika terjadi
pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah disepakati. Dalam kolaborasi
ini diperlukan komunikasi yang positif sehingga murid merasa nyaman dan tumbuh
kepercayaan antara guru dan murid yang pada akhirnya akan menghasilkan
kesepakatan yang positif pula. Dalam tahap ini, saya merasa senang dan
bersemangat karena kedekatan antara guru dan murid dapat terjalin. Murid
benar-benar merasa dihargai dan difasilitasi sehingga mereka dengan leluasa
mengutarakan pendapatnya. Ketiga, membuat poster kesepakatan
dan konsekuensi kelas mengenai Budaya 3M dan memajangnya di kelas dan di
lingkungan sekolah. Keempat, melaksanakan Budaya 3M pada setiap kegiatan di
sekolah. Kelima, mendokumentasikan seluruh kegiatan yang berkaitan
dengan pelaksanaan Budaya 3M. Keenam, melakukan refleksi terhadap
pelaksanaan Budaya 3M untuk merancang tindak lanjut perbaikan berikutnya. Ketujuh,
tahap ini adalah tahapan yang terakhir yaitu membuat laporan.
Pembiasaan melaksanakan 3M diharapkan dapat
mewujudkan budaya positif di SD Negeri 1 Sumbermanjing Wetan. Dengan pembiasaan
budaya 3M ini diharapkan seluruh warga sekolah dapat merasakan kenyamanan tanpa
adanya rasa khawatir dalam melaksanakan proses belajar mengajar serta dapat
menumbuhkan motivasi intrinsik atau kesadaran diri murid dalam menjaga
kesehatan dan pelaksanaan budaya positif 3M. Penerapan budaya positif 3M dalam
aktivitas belajar mengajar sehari-hari di sekolah juga sangat berkaitan dengan
nilai lainnya. Antara lain nilai mandiri dalam mematuhi protokol kesehatan,
kepedulian terhadap seluruh warga sekolah, kreatif dalam membuat poster dan
karya lainnya , dan kolaboratif dalam perencanaan dan pelaksanaan budaya 3M.
C. HASIL DARI AKSI NYATA
Hasil dari kegiatan aksi
nyata ini sangat baik. Kegiatan membangun kesepakatan kelas antara guru dan
murid membuat murid semakin percaya diri karena merasa menjadi bagian dari
pengambilan keputusan di kelasnya. Meskipun tidak semua murid iku membuat
kesepakatan kelas karena masa liburan (ada kegiatan bersama keluarga yang tidak
bisa ditinggalkan). Rekan guru lainnya juga sangat antusias untuk melakukan hal
yang sama yaitu membuat kesepakatan kelas yang berpihak pada murid. Semua siswa
melaksanakan budaya 3M ini dengan penuh kesadaran diri. Hal ini dibuktikan
meskipun dalam masa liburan (tidak ada pengawasan dari guru) mereka tetap
mematuhi kesepakatan kelas yang sudah dibuat yaitu Budaya 3M. Begitu pula
ketika mereka masuk ke sekolah, mereka tetap melaksanakan Budaya 3M tersebut
dengan baik. Hal ini dapat terlihat dari kemandirian mereka dalam mencuci
tangan, memakai masker dan menjaga jarak dalam setiap kegiatan. Murid menjadi
peduli terhadap kesehatan teman atau warga kesehatan lainnya. Lingkungan sekolahpun menjadi aman dan nyaman.
Sehingga semua warga sekolah dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar tanpa
adanya rasa kekhawatiran. Dengan demikian murid menjadi bernalar kritis, lebih
bertanggung jawab, lebih percaya diri dan juga tak kalah dengan murid rekan
guru lainnya pun ikut tergerak dalam upaya melakukan perubahan ke arah yang
positif.
D. PEMBELAJARAN YANG DIDAPAT DARI PELAKSANAAN
Tantangan dalam
pelaksanaan aksi nyata 1.4 ini adalah berkaitan dengan waktu dan kondisi.
Karena aksi nyata ini dilaksanakan pada masa liburan sehingga hanya beberapa
murid saja yang terlibat dalam pembuatan kesepakatan kelas. Namun dalam
pelaksanaannya terdapat respon baik dari murid dan seluruh warga sekolah
terhadap perubahan positif pelaksanaan budaya 3M. Murid menjadi lebih peduli
terhadap kesehatan dirinya dan juga orang-orang di sekitarnya. Selain itu, dengan
adanya penyusunan kesepakatan kelas yang melibatkan murid di dalamnya membuat
hubungan antara guru dan murid menjadi lebih dekat dan tumbuhnya kepercayaan
murid terhadap guru. Sehingga terwujud suasana pembelajaran yang merdeka
belajar dan nyaman. Hal ini menunjukkan bahwa pelibatan murid dalam mengambil
suatu keputusan yang berpihak pada murid itu sangat penting. Dengan adanya kolaborasi
antara guru dengan rekan guru lainnya juga dapat meningkatkan kerjasama antar
guru, saling menghargai dan saling melengkapi serta saling mendukung antara
satu dengan yang lainnya dalam mewujudkan visi sekolah.
E. RENCANA PERBAIKAN UNTUK PELAKSANAAN DI MASA
MENDATANG
Karena dalam masa liburan
ini beberapa siswa tidak bisa mengikuti pembuatan kesepakatan kelas dikarenakan
beberapa hal maka rencana perbaikan berikutnya akan saya laksanakan ketika
murid sudah mulai masuk sekolah di tahun
ajaran baru 2021-2022. Di tahun ajaran baru nanti saya akan membuat kesepakatan
kelas yang baru dengan murid baru di kelas saya dan memperbaiki serta
menambahkan bila ada ide atau pendapat baru dari murid-murid. Mengingat dulu
aturan itu hanya dibuat oleh pihak sekolah dan guru saja kali ini saya akan
melibatkan murid dalam setiap pengambilan keputusan dan kesepakatan. Sehingga
mereka akan terlatih untuk berpikir kritis, lebih percaya diri, dan bertanggung
jawab. Berikutnya saya ingin membuat pelaksanaan belajar mengajar yang ada di
kelas saya nanti benar-benar berpihak pada murid dan dapat mengimplementasikan
merdeka belajar yang sesungguhnya serta mengimplementasikan ilmu-ilmu yang
sudah saya peroleh dari Pendidikan Guru Penggerak ini.
F. DOKUMENTASI PROSES DAN HASIL
Dokumentasi kegiatan
proses dan hasil dari aksi nyata
1. Melakukan sosialisasi dan komunikasi positif
kepada kepala sekolah dan rekan guru terkait rencana yang akan dilakukan yaitu
pembiasaan budaya 3M
2. Membuat kesepakatan kelas dengan murid mengenai budaya 3M dan konsekuensi terhadap kelalaian pelaksanaannya (kesepakatan dan konsekuensi yang dibuat harus berpihak pada murid)
3. Membuat poster kesepakatan kelas dan
konsekuensinya
4. Melaksanakan aksi 3M (memakai masker, mencuci tangan
dengan sabun dan air yang mengalir, serta menjaga jarak)
G. PENUTUP
Demikian refleksi aksi nyata 1.4 yang sudah saya laksanakan.
Semoga aksi nyata ini dapat menjadikan inspirasi bagi seluruh guru yang ada di
Indonesia serta membawa dampak positif bagi perubahan pendidikan Indonesia
menjadi lebih baik lagi. Amin.
Salam Guru Penggerak ... Merdeka Belajar ...!!







Comments
Post a Comment