PGP-Angk2-Kabupaten Malang-Retno Trisniningsih-1.4-Rancangan Aksi
TUGAS
1.4.a.10
RANCANGAN AKSI NYATA
CGP
ANGKATAN-2 : RETNO TRISNININGSIH
PENGAJAR
PRAKTIK : ALIN WAHYU WULANDARI
FASILITATOR : Dra. NINIS EMILATI KHOTIMAH,
M.Pd.
A. LATAR BELAKANG
Menurut KHD, pendidikan merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya benih-benih kebudayaan. Guru diibaratkan sebagai petani yang mengelola dan menuntun siswa untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi dan budaya positif agar dapat menjadi murid yang berprofil pelajar Pancasila (Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif, Gotong Royong, Berkebinekaan Global). Budaya positif ialah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Dalam membangun budaya positif harus dilandasi dengan disiplin positif. Disiplin merujuk pada praktik mengajar atau melatih seseorang untuk mematuhi peraturan atau perilaku dalam jangka pendek dan jangka panjang. Disiplin positif ini harus dilaksanakan atas dasar kemauan intrinsik (dari dalam diri seseorang). Dengan demikian disiplin positif tersebut akan bersifat permanen dan menjadi budaya positif yang akan membentuk karakter baik seseorang.
Dalam menciptakan budaya positif di sekolah tidak dapat berdiri sendiri. Diperlukan adanya kolaborasi dari seluruh kekuatan yang ada baik dari dalam maupun dari luar sekolah. Antara lain kepala sekolah, rekan guru, murid, dan orang tua serta lembaga-lembaga kemasayarakatan lainnya yang dapat mendukung pelaksanaan budaya positif di sekolah. Melalui komunikasi yang positif pula, kolaborasi antar guru dan seluruh warga sekolah dapat terlaksana dengan baik sehingga menghasilkan kesepakatan yang berpihak pada murid. Sehingga dalam pelaksanaannya murid dan seluruh warga sekolah tidak merasa terbebani melainkan dapat melaksanakannya dengan penuh kesadaran diri. Selain itu, peran guru sebagai kontrol manajer sangat diperlukan. Sebagai guru tugas utama kita adalah menuntun murid untuk mengembangkan dan seluruh potensinya sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.
Dalam masa pandemi ini, pembelajaran di sekolah dilaksanakan secara PTM Terbatas. Protokol kesehatan harus tetap dipatuhi dan dilaksanakan agar seluruh warga sekolah dapat melaksanakan pembelajaran dengan lancar dan mencegah menyebarnya virus covid-19. Namun, pada kenyataannya sebagian besar warga sekolah masih belum menyadari dalam mematuhi protokol kesehatan tersebut. Memakai masker hanya ketika bertemu guru, dan waktu masuk gerbang sekolah selebihnya menunggu teguran dari guru begitu pula dengan mencuci tangan dan menjaga jarak. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut guru harus mempunyai rencana atau program untuk menumbuhkan dan mengembangkan budaya positif yang berpihak pada murid demi kelancaran proses belajar mengajar dan tercapainya visi sekolah yaitu "Terwujudnya merdeka belajar dan murid yang berprofil pelajar Pancasila".
B. DESKRIPSI AKSI NYATA
Pada kesempatan ini saya akan membuat rancangan aksi nyata sesuai dengan modul 1.4 yaitu "Menumbuhkan dan mengembangkan Budaya 3M". Budaya 3M ini meliputi memakai masker disetiap kegiatan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah melakukan aktifitas dan saat keluar masuk kelas atau ruangan, serta menjaga jarak di setiap kegiatan (antri mencuci tangan, mengumpulkan tugas, masuk dan pulang sekolah dll). Pembiasaan 3M ini akan dilaksanakan secara kontinuitas, konvergen dan konsentris yang berpihak kepada murid. Diawali dengan membangun kesepakatan antara guru dengan murid dalam mewujudkan sekolah yang sehat dan tertib serta menyusun konsekuensinya jika terjadi pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah disepakati.
Pembiasaan melaksanakan 3M diharapkan dapat mewujudkan budaya positif di SD Negeri 1 Sumbermanjing Wetan. Dengan pembiasaan budaya 3M ini diharapkan seluruh warga sekolah dapat merasakan kenyamanan tanpa adanya rasa khawatir dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Selain itu, persyaratan kelayakan sekolah mengadakan PTM terbatas dapat terpenuhi dan proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Penerapan budaya positif 3M dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari di sekolah sangat berkaitan dengan nilai lainnya. Antara lain nilai mandiri dalam mematuhi protokol kesehatan, kepedulian terhadap seluruh warga sekolah, kreatif dalam membuat poster dan karya lainnya , dan kolaboratif dalam perencanaan dan pelaksanaan budaya 3M.
B. TUJUAN AKSI NYATA
Adapun tujuan dari Budaya 3M ini adalah sebagai berikut :
- Dengan pembiasaan 3M seluruh warga sekolah dapat menumbuhkan dan meningkatkan budaya 3M dengan penuh kesadaran diri
- Dengan pembiasaan 3M seluruh warga sekolah dapat meningkatkan kemandiriannya dalam mematuhi protokol kesehatan meskipun tanpa adanya pengawasan dari guru atau pihak lainnya
- Dengan pembiasaan 3M akan meningkatkan rasa kepedulian terhadap seluruh warga sekolah
- Dengan pembiasaan 3M seluruh warga sekolah dapat merasakan kenyamanan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar tanpa ada rasa kekhawatiran terhadap persebaran virus Covid-19
- Terciptanya lingkungan yang sehat dan mematuhi protokol kesehatan
- Seluruh warga sekolah dapat terbiasa melaksanakan dan mematuhi protokol kesehatan (3M)
- Seluruh warga sekolah secara mandiri melaksanakan 3M tanpa adanya pengawasan langsung dari guru
- Melakukan sosialisasi dan komunikasi positif kepada kepala sekolah dan rekan guru terkait rencana yang akan dilakukan yaitu pembiasaan budaya 3M
- Membuat kesepakatan kelas dengan murid mengenai budaya 3M dan konsekuensi terhadap kelalaian pelaksanaannya (]kesepakatan dan konsekuensi yang dibuat harus berpihak pada murid)
- Membuat poster kesepakatan kelas dan konsekuensinya
- Melaksanakan aksi 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, serta menjaga jarak)
- Mendokumentasikan setiap langkah kegiatan budaya 3M
- Melakukan refleksi bersama untuk merancang tindak lanjut berikutnya
- Membuat laporan
- Kepala sekolah selaku pengambil kebijakan dan supervisor
- Rekan guru dan tenaga kependidikan dalam memberikan contoh atau teladan kepada murid serta berkolaborasi dalam bertukar pikiran serta pengawasan terhadap pelaksanaan budaya 3M
- Murid untuk bekerjasama dalam membuat kesepakatan dan konsekuensi yang berpihak pada murid
- Persediaan masker bagi warga sekolah yang lupa tidak memakai masker dari rumah
- Tempat cuci tangan, sabun, dan hand sanitizer yang tersedia di masing-masing kelas dan ruangan
- Thermogun untuk mengecek suhu di gerbang pintu masuk sekolah
- Orang tua selaku pendamping dan pembimbing anak di rumah untuk tetap mematuhi protokol kesehatan
Demikian rancangan aksi nyata yang sudah saya buat. Semoga rancangan ini dapat terealisasi dengan baik dan tujuan yang diharapkan dapat terwujud. Amin. Salam Guru Penggerak ... Merdeka Belajar ...!!

I bu Retno, trimakasih yang sudah memaparkan dalam koneksi antar materi dalam bentuk artikel. Tentunya paparan artikel in isebaiknya tetap menjawab empat pertanyaan yang ada di LMS dan yang sudah dijawab melalui PPT, hanya saja mengikuti alur penulisan artikel, misalnya ada latar belakang (sudah ada) dst......sampai penutup (sudah ada, biasanya berupa kesimpulan singkan atau saran) walau secara tersirat.
ReplyDeleteArtikel untuk Aksi Nyata dalam unggah tugas : perhatikan permintaan yang ada di LMS yah..... Sertakan data-data yang konkrit, realitas, dan juga dalam bentuk gambar/foto. Untuk kesepakatn dan konsekuensi jika melibat guru dan murid untuk melaksanakannya maka gunakan kata KAMI.
Selamat berkarya
Terimakasih Bunda atas tanggapan sldan sarannya..siap untuk revisi 🙏
ReplyDelete